Hukum meluruskan dan merapatkan shaf adalah wajib, seorang imam dilarang
memulai shalatnya sebelum meluruskan shaf baik meluruskannya sendiri maupun
dengan menyuruh orang lain untuk meluruskannya shaf tersebut.”Luruskan
shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan
shalat (HR Bukhari-Muslim).
Dimana lurusnya shaf yaitu dengan cara menempelkan bahu dan tumit
sebagaimana hadit berikut ini:
1. Dari Anas ra, ia berkata bahwa setelah diserukan iqamah shalat,
Rasulullah saw menghadap kepada kami dan bersabda: “Luruskan shaf-shaf
kalian dan rapatkanlah. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik
punggungku” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Di dalam riwayat Bukhari ada tambahan: “Maka seseorang dari kami menempelkan
bahunya dengan bahu kawannya dan telapak kakinya dengan telapak kaki kawan
di sampingnya.” [Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani hadits ini shahih
(STT, 1/271)]
2. Dari Nu’man bin Basyir ra, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah
bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) sungguh Allah
akan menimbulkan perselisihan di antara kalian” (Diriwayatkan oleh Malik,
Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).
Berkata An_Nu’man:”saya melihat salah seorang diantara kami menempelkan
tumitnya dengan tumit orang lain disampingnya” (HR Bukhari)
Di dalam riwayat lain bagi mereka, kecuali Bukhari, bahwa Rasulullah saw
biasa meluruskan shaf-shaf kami sehingga seperti cara beliau meluruskan
(membidikkan) anak panah sampai melihat bahwa kami telah memahaminya. Pada
suatu hari ketika beliau hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat
seseorang yang dadanya lebih maju dari shaf, lalu beliau bersabda; “Wahai
hamba-hamba Allah, luruskan shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah
akan menimbulkan kebengkokan di antara kalian”
Di dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya: Rasulullah
saw datang dengan menghadapkan wajahnya kepada orang-orang lalu bersabda:
“Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah akan
menimbulkan kebengkokan di antara hati-hati kalian.” Perawi berkata:
“Kemudian aku melihat orang-orang menempelkan bahu dengan bahu, lutut dengan
lutut, dan mata kaki dengan mata kaki kawannya.” [Menurut Muhammad
Nasiruddin Al-Albani hadits ini shahih (STT - 1/276)]
Sumber: assunnah@yahoogroups.com






