<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Geefa's Learning Blog</title>
	<atom:link href="http://geefa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://geefa.wordpress.com</link>
	<description>Belajar Ilmu, Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Dec 2008 23:16:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='geefa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f6ebe3f92665932263b244ff8621a325?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Geefa's Learning Blog</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF SHALAT BERJAMAAH</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/12/11/meluruskan-dan-merapatkan-shaf-shalat-berjamaah/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/12/11/meluruskan-dan-merapatkan-shaf-shalat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 23:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[lurus]]></category>
		<category><![CDATA[rapat]]></category>
		<category><![CDATA[shaf]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Hukum meluruskan dan merapatkan shaf adalah wajib, seorang imam dilarang
memulai shalatnya sebelum meluruskan shaf baik meluruskannya sendiri maupun
dengan menyuruh orang lain untuk meluruskannya shaf tersebut.&#8221;Luruskan
shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan
shalat (HR Bukhari-Muslim).
Dimana lurusnya shaf yaitu dengan cara menempelkan bahu dan tumit
sebagaimana hadit berikut ini:
1. Dari Anas ra, ia berkata bahwa setelah diserukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=171&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hukum meluruskan dan merapatkan shaf adalah wajib, seorang imam dilarang<br />
memulai shalatnya sebelum meluruskan shaf baik meluruskannya sendiri maupun<br />
dengan menyuruh orang lain untuk meluruskannya shaf tersebut.&#8221;Luruskan<br />
shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan<br />
shalat (HR Bukhari-Muslim).</p>
<p>Dimana lurusnya shaf yaitu dengan cara menempelkan bahu dan tumit<br />
sebagaimana hadit berikut ini:</p>
<p>1. Dari Anas ra, ia berkata bahwa setelah diserukan iqamah shalat,<br />
Rasulullah saw menghadap kepada kami dan bersabda: &#8220;Luruskan shaf-shaf<br />
kalian dan rapatkanlah. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik<br />
punggungku&#8221; (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Di dalam riwayat Bukhari ada tambahan: &#8220;Maka seseorang dari kami menempelkan<br />
bahunya dengan bahu kawannya dan telapak kakinya dengan telapak kaki kawan<br />
di sampingnya.&#8221; [Menurut Muhammad Nasiruddin Al-Albani hadits ini shahih<br />
(STT, 1/271)]</p>
<p>2. Dari Nu&#8217;man bin Basyir ra, ia berkata: &#8220;Aku mendengar Rasulullah<br />
bersabda: &#8220;Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) sungguh Allah<br />
akan menimbulkan perselisihan di antara kalian&#8221; (Diriwayatkan oleh Malik,<br />
Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa&#8217;i dan Ibnu Majah).</p>
<p>Berkata An_Nu&#8217;man:&#8221;saya melihat salah seorang diantara kami menempelkan<br />
tumitnya dengan tumit orang lain disampingnya&#8221; (HR Bukhari)</p>
<p>Di dalam riwayat lain bagi mereka, kecuali Bukhari, bahwa Rasulullah saw<br />
biasa meluruskan shaf-shaf kami sehingga seperti cara beliau meluruskan<br />
(membidikkan) anak panah sampai melihat bahwa kami telah memahaminya. Pada<br />
suatu hari ketika beliau hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat<br />
seseorang yang dadanya lebih maju dari shaf, lalu beliau bersabda; &#8220;Wahai<br />
hamba-hamba Allah, luruskan shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah<br />
akan menimbulkan kebengkokan di antara kalian&#8221;</p>
<p>Di dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya: Rasulullah<br />
saw datang dengan menghadapkan wajahnya kepada orang-orang lalu bersabda:<br />
&#8220;Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah akan<br />
menimbulkan kebengkokan di antara hati-hati kalian.&#8221; Perawi berkata:<br />
&#8220;Kemudian aku melihat orang-orang menempelkan bahu dengan bahu, lutut dengan<br />
lutut, dan mata kaki dengan mata kaki kawannya.&#8221; [Menurut Muhammad<br />
Nasiruddin Al-Albani hadits ini shahih (STT - 1/276)]</p>
<p>Sumber: <a href="http://groups.yahoo.com/group/assunnah/post?postID=4gK0MYb7pB4ySzZeXo6_mbEzBEDfgwLDTdtibU-vaNOJqGPh5Ns-3vDf4Ld2ByaiV9nN3Fr_7KGCVIiz2-iVeAg">assunnah@yahoogroups.com</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=171&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/12/11/meluruskan-dan-merapatkan-shaf-shalat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aqiqah</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/aqiqah/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/aqiqah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 09:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[dalil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[syaratnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Kata &#8216;Aqiqah berasal dari bahasa arab. Secara etimologi, ia berarti &#8216;memutus&#8217;. &#8216;Aqqa wi¢lidayhi, artinya jika ia memutus (tali silaturahmi) keduanya. Dalam istilah, &#8216;Aqiqah berarti &#8220;menyembelih kambing pada hari ketujuh (dari kelahiran seorang bayi) sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah swt berupa kelahiran seorang anak&#8221;.
&#8216;Aqiqah merupakan salah satu hal yang disyariatkan dalam agama islam. Dalil-dalil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=169&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Kata &#8216;Aqiqah berasal dari bahasa arab. Secara etimologi, ia berarti &#8216;memutus&#8217;. &#8216;Aqqa wi¢lidayhi, artinya jika ia memutus (tali silaturahmi) keduanya. Dalam istilah, &#8216;Aqiqah berarti &#8220;menyembelih kambing pada hari ketujuh (dari kelahiran seorang bayi) sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah swt berupa kelahiran seorang anak&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">&#8216;Aqiqah merupakan salah satu hal yang disyariatkan dalam agama islam. Dalil-dalil yang menyatakan hal ini, di antaranya, adalah Hadits Rasulullah saw, &#8220;Setiap anak tertuntut dengan &#8216;Aqiqah-nya&#8217;?. Ada Hadits lain yang menyatakan, &#8220;Anak laki-laki (&#8216;Aqiqah-nya dengan 2 kambing) sedang anak perempuan (&#8216;Aqiqah-nya) dengan 1 ekor kambing&#8217;?. Status hukum &#8216;Aqiqah adalah sunnah. Hal tersebut sesuai dengan pandangan mayoritas ulama, seperti Imam Syafi&#8217;i, Imam Ahmad dan Imam Malik, dengan berdasarkan dalil di atas. Para ulama itu tidak sependapat dengan yang mengatakan wajib, dengan menyatakan bahwa seandainya &#8216;Aqiqah wajib, maka kewajiban tersebut menjadi suatu hal yang sangat diketahui oleh agama. Dan seandainya &#8216;Aqiqah wajib, maka Rasulullah saw juga pasti telah menerangkan akan kewajiban tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa ulama seperti Imam Hasan Al-Bashri, juga Imam Laits, berpendapat bahwa hukum &#8216;Aqiqah adalah wajib. Pendapat ini berdasarkan atas salah satu Hadits di atas, &#8220;Kullu ghuli¢min murtahanun bi &#8216;aqiqatihi&#8217;? (setiap anak tertuntut dengan &#8216;Aqiqah-nya), mereka berpendapat bahwa Hadits ini menunjukkan dalil wajibnya &#8216;Aqiqah dan menafsirkan Hadits ini bahwa seorang anak tertahan syafaatnya bagi orang tuanya hingga ia di-&#8217;Aqiqah-i. Ada juga sebagian ulama yang mengingkari disyariatkannya (masyri»&#8217;iyyat) &#8216;Aqiqah, tetapi pendapat ini tidak berdasar sama sekali. Dengan demikian, pendapat mayoritas ulama lebih utama untuk diterima karena dalil-dalilnya, bahwa &#8216;Aqiqah adalah sunnah.</p>
<p class="MsoNormal">Bagi seorang ayah yang mampu hendaknya menghidupkan sunnah ini hingga ia mendapat pahala. Dengan syariat ini, ia dapat berpartisipasi dalam menyebarkan rasa cinta di masyarakat dengan mengundang para tetangga dalam walimah &#8216;Aqiqah tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Mengenai kapan &#8216;Aqiqah dilaksanakan, Rasulullah saw bersabda, &#8220;Seorang anak tertahan hingga ia di-&#8217;Aqiqah-i, (yaitu) yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan diberi nama pada waktu itu&#8217;?. Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa &#8216;Aqiqah mendapatkan kesunnahan jika disembelih pada hari ketujuh. Sayyidah Aisyah ra dan Imam Ahmad berpendapat bahwa &#8216;Aqiqah bisa disembelih pada hari ketujuh, atau hari keempat belas ataupun hari keduapuluh satu. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa sembelihan &#8216;Aqiqah pada hari ketujuh hanya sekedar sunnah, jika &#8216;Aqiqah disembelih pada hari keempat, atau kedelapan ataupun kesepuluh ataupun sesudahnya maka hal itu dibolehkan.</p>
<p class="MsoNormal">Menurut hemat penulis, jika seorang ayah mampu untuk menyembelih &#8216;Aqiqah pada hari ketujuh, maka sebaiknya ia menyembelihnya pada hari tersebut. Namun, jika ia tidak mampu pada hari tersebut, maka boleh baginya untuk menyembelihnya pada waktu kapan saja. &#8216;Aqiqah anak laki-laki berbeda dengan &#8216;Aqiqah anak perempuan. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama, sesuai Hadits yang telah kami sampaikan di atas. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa &#8216;Aqiqah anak laki-laki sama dengan &#8216;Aqiqah anak perempuan, yaitu sama-sama 1 ekor kambing. Pendapat ini berdasarkan riwayat bahwa Rasulullah saw meng-&#8217;Aqiqah- i Sayyidina Hasan dengan 1 ekor kambing, dan Sayyidina Husein &#8216;“keduanya adalah cucu beliau saw&#8217;” dengan 1 ekor kambing.</p>
<p class="MsoNormal">***</p>
<p class="MsoNormal">Bisa kita simpulkan bahwa jika seseorang berkemampuan untuk menyembelih 2 ekor kambing bagi &#8216;Aqiqah anak laki-lakinya, maka sebaiknya ia melakukannya, namun jika tidak mampu maka 1 ekor kambing untuk &#8216;Aqiqah anak laki-lakinya juga diperbolehkan dan mendapat pahala. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p class="MsoNormal">Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa agama Islam membedakan antara &#8216;Aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan, maka bisa kita jawab, bahwa seorang muslim, ia berserah diri sepenuhnya pada perintah Allah swt, meskipun ia tidak tahu hikmah akan perintah tersebut, karena akal manusia terbatas. Barangkali juga kita bisa mengambil hikmahnya yaitu untuk memperlihatkan kelebihan seorang laki-laki dari segi kekuatan jasmani, juga dari segi kepemimpinannya (qawwamah) dalam suatu rumah tangga. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p class="MsoNormal">Dalam penyembelihan &#8216;Aqiqah, banyak hal yang perlu diperhatikan, di antaranya, sebaiknya tidak mematahkan tulang dari sembelihan &#8216;Aqiqah tersebut, dengan hikmah tafa&#8217;™ul (berharap) akan keselamatan tubuh dan anggota badan anak tersebut. &#8216;Aqiqah sah jika memenuhi syarat seperti syarat hewan Qurban, yaitu tidak cacat dan memasuki usia yang telah disyaratkan oleh agama Islam. Seperti dalam definisi tersebut di atas, bahwa &#8216;Aqiqah adalah menyembelih kambing pada hari ketujuh semenjak kelahiran seorang anak, sebagai rasa syukur kepada Allah. Tetapi boleh juga mengganti kambing dengan unta ataupun sapi dengan syarat unta atau sapi tersebut hanya untuk satu anak saja, tidak seperti kurban yang mana dibolehkan untuk 7 orang. Tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa &#8216;Aqiqah hanya boleh dengan menggunakan kambing saja, sesuai dalil-dalil yang datang dari Rasulullah saw. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p class="MsoNormal">Ada perbedaan lain antara &#8216;Aqiqah dengan Qurban, kalau daging Qurban dibagi-bagikan dalam keadaan mentah, sedangkan &#8216;Aqiqah dibagi-bagikan dalam keadaan matang. Kita dapat mengambil hikmah syariat &#8216;Aqiqah. Yakni, dengan &#8216;Aqiqah, timbullah rasa kasih sayang di masyarakat karena mereka berkumpul dalam satu walimah sebagai tanda rasa syukur kepada Allah swt. Dengan &#8216;Aqiqah pula, berarti bebaslah tali belenggu yang menghalangi seorang anak untuk memberikan syafaat pada orang tuanya. Dan lebih dari itu semua, bahwasanya &#8216;Aqiqah adalah menjalankan syiar Islam. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p class="MsoNormal">Referensi utama : Tarbiyatul Awlid, DR. Abdullah Nashih Ulwan.</p>
<p class="MsoNormal">Sumber :pesantrenvirtual.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=169&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/aqiqah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qurban, Keutamaan dan Hukumnya</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 08:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[atas nama]]></category>
		<category><![CDATA[dalil]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[untuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Definisi
 Al-Imam Al-Jauhari rahimahullahu menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:
1.	Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ
2.	Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ
Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).
3.	ضَحِيَّةٌ dengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا
4.	 أَضْحَاةٌ  dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى
Dari asal kata inilah penamaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=166&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Definisi</p>
<p><span class="fnu"> Al-Imam Al-Jauhari rahimahullahu menukil dari Al-Ashmu’i bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:<br />
1.	Dengan mendhammah hamzah: أُضْحِيَّةٌ<br />
2.	Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ<br />
Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).<br />
3.	ضَحِيَّةٌ dengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا<br />
4.	 أَضْحَاةٌ  dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى</span></p>
<p>Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى  diambil. Dikatakan secara bahasa:<br />
ضَحَّى يُضَحِّي تَضْحِيَةً فَهُوَ مُضَحِّ<br />
Al-Qadhi rahimahullahu menjelaskan: “Disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.”<br />
Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq Al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Iedul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Lihat Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470)</p>
<p>Syariat dan Keutamaannya<br />
Dalil yang menunjukkan disyariatkannya menyembelih hewan qurban adalah Al-Qur`an, As-Sunnah, dan kesepakatan para ulama.<br />
Adapun dari Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ<br />
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)<br />
Menurut sebagian ahli tafsir seperti Ikrimah, Mujahid, Qatadah, ‘Atha`, dan yang lainnya, النَّحْرُ dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan qurban.<br />
Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam Adhwa`ul Bayan (3/470) menegaskan: “Tidak samar lagi bahwa menyembelih hewan qurban masuk dalam keumuman ayat وَانْحَرْ.”<br />
Juga keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<br />
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ<br />
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)<br />
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam kitab Fathur Rabbil Wadud (1/370) berhujjah dengan keumuman ayat di atas untuk menunjukkan syariat menyembelih hewan qurban. Beliau menjelaskan: “Kata الْبُدْنَ mencakup semua hewan sembelihan baik itu unta, sapi, atau kambing.”</p>
<p>Adapun dalil dari As-Sunnah, ditunjukkan oleh sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatannya. Di antara sabda beliau adalah hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu &#8216;anhu:<br />
إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ، مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ<br />
“Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini adalah shalat. Kemudian kita pulang lalu menyembelih hewan qurban. Barangsiapa berbuat demikian maka dia telah sesuai dengan sunnah kami, dan barangsiapa yang telah menyembelih sebelumnya maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, tidak termasuk ibadah nusuk sedikitpun.” (HR. Al-Bukhari no. 5545 dan Muslim no. 1961/7)<br />
Di antara perbuatan beliau adalah hadits Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu:<br />
ضَحَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا<br />
“Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca basmalah, bertakbir, dan meletakkan kakinya di sisi leher kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5554 dan Muslim no. 1966, dan lafadz hadits ini milik beliau)<br />
Adapun ijma’ ulama, dinukilkan kesepakatan ulama oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Kabir (5/157) -Mughni-, Asy-Syaukani rahimahullahu dalam Nailul Authar (5/196) dan Asy-Syinqithi rahimahullahu dalam Adhwa`ul Bayan (3/470)1. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya.<br />
Adapun keutamaan berqurban, maka dapat diuraikan sebagai berkut:<br />
1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana yang telah lewat penyebutannya dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Hajj ayat 36.<br />
2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan dan melaksanakannya. Maka setiap muslim yang berqurban seyogianya mencontoh beliau dalam pelaksanaan ibadah yang mulia ini.<br />
3.	Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ<br />
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163)<br />
Juga firman-Nya:<br />
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ<br />
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2)<br />
Sisi keutamaannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua ayat di atas menggandengkan ibadah berqurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa (16/531-532) ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.”<br />
Beliau mengatakan lagi: “Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:<br />
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ<br />
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (Al-An’am: 162)<br />
Walhasil, shalat dan menyembelih qurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”<br />
Beliau juga menegaskan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat.”</p>
<p>Hukum Menyembelih Qurban<br />
Pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwa menyembelih qurban hukumnya sunnah muakkadah. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا<br />
“Apabila masuk 10 hari Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak menyembelih qurban maka janganlah dia mengambil (memotong) rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim 1977/39)<br />
Sisi pendalilannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan ibadah qurban kepada kehendak yang menunaikannya. Sedangkan perkara wajib tidak akan dikaitkan dengan kehendak siapapun. Menyembelih hewan qurban berubah menjadi wajib karena nadzar, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:<br />
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيْعَ اللهَ فَلْيُطِعْهُ<br />
“Barangsiapa bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaklah dia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696, 6700 dari Aisyah radhiyallahu &#8216;anha)</p>
<p>Faedah: Atas nama siapakah berqurban itu disunnahkan?<br />
Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Disunnahkan dari orang yang masih hidup, bukan dari orang yang telah mati. Oleh sebab itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban atas nama seorangpun yang telah mati. Tidak untuk istrinya, Khadijah radhiyallahu &#8216;anha, yang paling beliau cintai. Tidak juga untuk Hamzah radhiyallahu &#8216;anhu, paman yang beliau cintai. Tidak pula untuk putra-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarganya. Dan barangsiapa yang memasukkan orang yang telah meninggal pada keumuman (keluarga), maka pendapatnya masih ditoleransi. Namun berqurban atas nama yang mati di sini statusnya hanya mengikuti, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyariatkan berqurban atas nama orang yang mati secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/423-424 cet. Darul Atsar, lihat pula hal. 389-390)<br />
Berqurban atas nama sang mayit hanya diperbolehkan pada keadaan berikut:<br />
1.	Bila sang mayit pernah bernadzar sebelum wafatnya, maka nadzar tersebut dipenuhi karena termasuk nadzar ketaatan.<br />
2. Bila sang mayit berwasiat sebelum wafatnya, wasiat tersebut dapat terlaksana dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta sang mayit. (Lihat Syarh Bulughil Maram, 6/87-88 karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)<br />
Hadits yang menunjukkan kebolehan berqurban atas nama sang mayit adalah dhaif. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2790) dan At-Tirmidzi (no. 1500) dari jalan Syarik, dari Abul Hasna`, dari Al-Hakam, dari Hanasy, dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu. Hadits ini dhaif karena beberapa sebab:<br />
1.	Syarik adalah Ibnu Abdillah An-Nakha’i Al-Qadhi, dia dhaif karena hafalannya jelek setelah menjabat sebagai qadhi (hakim).<br />
2.	Abul Hasna` majhul (tidak dikenal).<br />
3. Hanasy adalah Ibnul Mu’tamir Ash-Shan’ani, pada haditsnya ada kelemahan walau dirinya dinilai shaduq lahu auham (jujur namun punya beberapa kekeliruan) oleh Al-Hafizh dalam Taqrib-nya.<br />
Dan hadits ini dimasukkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (2/844) sebagai salah satu kelemahan Hanasy.<br />
Adapun bila ada yang berqurban atas nama sang mayit, maka amalan tersebut dinilai shadaqah atas nama sang mayit dan masuk pada keumuman hadits:<br />
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ &#8230;<br />
“Bila seseorang telah mati maka terputuslah amalannya kecuali dari 3 perkara: shadaqah jariyah&#8230;.” (HR. Muslim no. 1631 dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu)<br />
Wallahul muwaffiq.</p>
<p>1 Juga Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi dalam Fathur Rabbil Wadud (1/370).</p>
<p>Sumber : asysyariah.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=166&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/qurban-keutamaan-dan-hukumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Jum&#8217;at</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/sholat-jumat-2/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/sholat-jumat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 06:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara]]></category>
		<category><![CDATA[yang dianjurkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Shalat jum’at adalah aktivitas ibadah shalat pemeluk agama Islam yang dilakukan setiap hari jumat secara berjama&#8217;ah pada waktu dzhuhur.
Hukum Shalat Jumat
Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap muslim laki-laki. Hal ini tercantum dalam Al Qur&#8217;an dan Hadits berikut ini:

Al Qur&#8217;an Al Jumu&#8217;ah ayat 9 yang artinya:&#8221;Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=164&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Shalat jum’at</strong> adalah aktivitas ibadah <a title="Shalat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat">shalat</a> pemeluk agama <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a> yang dilakukan setiap hari <a title="Jumat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jumat">jumat</a> secara <a title="Shalat berjama'ah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat_berjama%27ah">berjama&#8217;ah</a> pada waktu <a class="mw-redirect" title="Dzhuhur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dzhuhur">dzhuhur</a>.</p>
<h2><span class="mw-headline">Hukum Shalat Jumat</span></h2>
<p>Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap <a title="Muslim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muslim">muslim</a> laki-laki. Hal ini tercantum dalam <a class="mw-redirect" title="Al Qur'an" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Qur%27an">Al Qur&#8217;an</a> dan <a title="Hadits" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hadits">Hadits</a> berikut ini:</p>
<ul>
<li>Al Qur&#8217;an Al Jumu&#8217;ah ayat 9 yang artinya:&#8221;Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah mengingat <a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a> dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.&#8221; <em>(QS 62: 9)</em></li>
<li>&#8220;Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.&#8221; <em>(HR. Muslim)</em></li>
<li>&#8220;Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) <a title="Shalat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat">shalat</a> bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat Jum’at.” <em>(HR. Muslim)</em></li>
<li>&#8220;Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.&#8221; <em>(HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)</em></li>
</ul>
<p><a id="Keutamaan_Hari_Jum.E2.80.99at" name="Keutamaan_Hari_Jum.E2.80.99at"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Keutamaan Hari Jum’at</span></h2>
<p>Dalam <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">islam</a> jum&#8217;at adalah hari yang utama dibandingkan hari-hari lain. Sumber dari hadits <a class="mw-redirect" title="Rasulullah SAW" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah_SAW">Rasulullah SAW</a> menyebutkan “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan <a title="Nabi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nabi">Nabi</a> <a title="Adam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adam">Adam</a>, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi <a class="mw-redirect" title="Kiamat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kiamat">Kiamat</a> &#8230; Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian shalat dan memohon segala keperluannya kepada <a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a>, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan lainnya, hadits shahih)</p>
<p><a id="Tata_Cara_Shalat_Jum.E2.80.99at" name="Tata_Cara_Shalat_Jum.E2.80.99at"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Tata Cara Shalat Jum’at</span></h2>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:252px;"><a class="image" title="Muslim mendengarkan khutbah jum'at" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Sbyshalatjumatistiqlal.jpg"><img class="thumbimage" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/5/5f/Sbyshalatjumatistiqlal.jpg/250px-Sbyshalatjumatistiqlal.jpg" border="0" alt="Muslim mendengarkan khutbah jum'at" width="250" height="234" /></a></p>
<div class="thumbcaption">
<div class="magnify"><a class="internal" title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Sbyshalatjumatistiqlal.jpg"><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></a></div>
<p><a title="Muslim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muslim">Muslim</a> mendengarkan khutbah jum&#8217;at</div>
</div>
</div>
<p>Adapun tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu :</p>
<ol>
<li><a title="Khatib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Khatib">Khatib</a> naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu <a class="mw-redirect" title="Dzuhur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dzuhur">dzuhur</a>), kemudian memberi salam dan duduk.</li>
<li><a class="mw-redirect" title="Muadzin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muadzin">Muadzin</a> mengumandangkan adzan sebagaimana halnya <a title="Adzan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adzan">adzan</a> dzuhur.</li>
<li>Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan <a class="mw-redirect" title="Hamdalah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hamdalah">hamdalah</a> dan pujian kepada <a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a> SWT serta membaca shalawat kepada <a class="mw-redirect" title="Rasulullah SAW" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah_SAW">Rasulullah SAW</a>. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan <a title="Allah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a> SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala. Kemudian duduk sebentar</li>
<li>Khutbah kedua : Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai</li>
<li>Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan <a title="Adzan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adzan">iqamat</a> untuk melaksanakan <a title="Shalat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat">shalat</a>. Kemudian memimpin <a title="Shalat berjama'ah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat_berjama%27ah">shalat berjama&#8217;ah</a> dua rakaat dengan mengeraskan bacaan</li>
</ol>
<p><a id="Hal-hal_yang_dianjurkan" name="Hal-hal_yang_dianjurkan"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Hal-hal yang dianjurkan</span></h2>
<p>Pada shalat jum&#8217;at setiap <a title="Muslim" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muslim">muslim</a> dianjurkan untuk memperhatikan hal-hal berikut:</p>
<ul>
<li>Mandi, berpakaian rapi, memakai wewangian dan bersiwak (menggosok gigi).</li>
<li>Meninggalkan transaksi jual beli ketika adzan sudah mulai berkumandang.</li>
<li>Menyegerakan pergi ke <a title="Masjid" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid">masjid</a>.</li>
<li>Melakukan shalat-shalat sunnah di masjid sebelum shalat Jum’at selama <a class="mw-redirect" title="Imam shalat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_shalat">Imam</a> belum datang.</li>
<li>Tidak melangkahi pundak-pundak orang yang sedang duduk dan memisahkan/menggeser mereka.</li>
<li>Berhenti dari segala pembicaraan dan perbuatan sia-sia apabila imam telah datang.</li>
<li>Hendaklah memperbanyak membaca <a class="new" title="Shalawat (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shalawat&amp;action=edit&amp;redlink=1">shalawat</a> serta salam kepada <a class="mw-redirect" title="Rasulullah SAW" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rasulullah_SAW">Rasulullah SAW</a> pada malam Jum’at dan siang harinya</li>
<li>Memanfaatkannya untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa karena hari jum&#8217;at adalah waktu yang <em>mustajab</em> untuk dikabulkannya doa.</li>
</ul>
<p><a id="Sumber_hadits_terkait" name="Sumber_hadits_terkait"></a></p>
<h2><span class="mw-headline">Sumber hadits terkait</span></h2>
<p>Berikut adalah sumber dalam Hadits berkenaan dengan shalat jum&#8217;at dan hari jum&#8217;at :</p>
<ul>
<li>&#8220;Mandi, mencabut bulu-bulu tak perlu, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jum&#8217;at dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh.&#8221; <em>(Muttafaq &#8216;alaih)</em></li>
<li>&#8220;Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti <a title="Mandi wajib" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mandi_wajib">mandi jinabat</a>, kemudian dia pergi ke <a title="Masjid" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid">masjid</a> pada saat pertama, maka seakan-akan dia <a title="Kurban (Islam)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kurban_%28Islam%29">berkurban</a> dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah.&#8221; <em>(Muttafaq ‘alaih)</em></li>
<li>&#8220;Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia shalat yang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar.&#8221; <em>(HR. Al-Bukhari)</em></li>
<li>&#8220;Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu.&#8221; <em>(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)</em></li>
<li>&#8220;Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu.&#8221; <em>(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, hadits shahih)</em></li>
<li>&#8220;Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan shalat dan memohon kebaikan kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya.&#8221; <em>(HR. Muslim)</em></li>
</ul>
<p>Sumber : id.wikipedia.org</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=164&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/sholat-jumat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/5/5f/Sbyshalatjumatistiqlal.jpg/250px-Sbyshalatjumatistiqlal.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Muslim mendengarkan khutbah jum'at</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Sholat Isya dan Shubuh Berjamaah</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/keutamaan-sholat-isya-dan-shubuh-berjamaah/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/keutamaan-sholat-isya-dan-shubuh-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 04:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[berjama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[isya]]></category>
		<category><![CDATA[kelebihan]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[shubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Setiap sholat fardhu yang dikerjakan dengan berjamaah mempunyai kelebihan duapuluh tujuh derajat lebih daripada sholat fardhu dikerjakan munfarid(sendirian). Lebih dari itu, apabila sholat Isya’ dan Subuh dikerjakan dengan berjamaah akan dinilai oleh Alloh seperti orang yang mengerjakan ibadah semalam suntuk. Dalam suatu riwayat diterangkan sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=162&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Setiap sholat fardhu yang dikerjakan dengan berjamaah mempunyai kelebihan duapuluh tujuh derajat lebih daripada sholat fardhu dikerjakan munfarid(sendirian). Lebih dari itu, apabila sholat Isya’ dan Subuh dikerjakan dengan berjamaah akan dinilai oleh Alloh seperti orang yang mengerjakan ibadah semalam suntuk. Dalam suatu riwayat diterangkan sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:blue;">Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Bisyru bin Assariyyi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari ‘Utsman bin Hakim, dari ‘Abdirrahman bin Abi ‘Amroh, dari Utsman bin ‘Affan, dia berkata: Rosululloh bersabda “Barangsiapa mengerjakan sholat Isya’ dengan berjamaah adalah baginya seperti mengerjakan ibadah seperdua malam, dan barangsiapa sholat Isya’ dan Subuh dengan berjamaah adalah baginya seperti mengerjakan ibadah semalam suntuk”</span><strong>(H.R. Tirmidzi: Jilid 1, halaman 433, nomor hadistnya 221 pada baris 4-7 dalam ‘Babu ma ja-a fie fadllil ‘Isya-I wal fajri fil jama’ati)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="SV">Keterangan:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Biasanya orang dari waktu maghrib dan subuh berada di rumah setelah siang harinya bekerja ditempat bekerjanya masing-masing. Biasanya sholat Dzuhur dan bahkan mungkin sholat ’Ashar dikerjakan di tempat bekerja atau di perjalanan. Nah, selama tiga waktu sholat Maghrib, ’Isya dan Subuh itu yang biasanya dikerjakan dengan jamaah hanyalah sholat Maghrib saja. Hal ini karena kurang mengertinya kehebatan nilai sholat jamaah ’Isya dan Subuh sehingga tidak tumbuh di hati niatan yang kuat untuk sholat jamaah ’Isya dan Subuh.<br />
</span></p>
<p><span lang="SV">Sabda Nabi tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa sholat ’Isya dan Subuh itu apabila dikerjakan dengan berjamaah walaupun hanya dua orang, maka dinilai oleh Alloh seperti orang yang mengerjakan ibadah semalam suntuk.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=162&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/10/keutamaan-sholat-isya-dan-shubuh-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jeniss-jenis Zakat</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/jeniss-jenis-zakat/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/jeniss-jenis-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 04:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[zakat]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[maal]]></category>
		<category><![CDATA[perusahaan]]></category>
		<category><![CDATA[profesi]]></category>
		<category><![CDATA[uang simpanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Jenis Zakat

Zakat Fitrah/Fidyah
Dari Ibnu Umar ra berkata :
&#8220;Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha&#8217; kurma atau gandum pada budak, orang merdeka, lelaki perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari ummat Islam dan memerintahkan untuk membayarnya sebelum mereka keluar untuk sholat (&#8216;iid ). ( Mutafaq alaih ).
Besarnya zakat fitrah menurut ukuran sekarang adalah 2,176 kg. Sedangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=158&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3>Jenis Zakat</h3>
<ol>
<li><strong>Zakat Fitrah/Fidyah</strong><br />
Dari Ibnu Umar ra berkata :<br />
&#8220;Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha&#8217; kurma atau gandum pada budak, orang merdeka, lelaki perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari ummat Islam dan memerintahkan untuk membayarnya sebelum mereka keluar untuk sholat (&#8216;iid ). ( Mutafaq alaih ).</p>
<p>Besarnya zakat fitrah menurut ukuran sekarang adalah 2,176 kg. Sedangkan makanan yang wajib dikeluarkan yang disebut nash hadits yaitu tepung, terigu, kurma, gandum, zahib (anggur) dan aqith (semacam keju). Untuk daerah/negara yang makanan pokoknya selain 5 makanan di atas, mazhab Maliki dan Syafi&#8217;i membolehkan membayar zakat dengan makanan pokok yang lain.</p>
<p>Menurut mazhab hanafi pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan dengan membayar- kan harganya dari makanan pokok yang di makan.</p>
<p>Pembayaran zakat menurut jumhur &#8216;ulama :</p>
<ol>
<li>Waktu wajib membayar zakat fitrah yaitu ditandai dengan tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan</li>
<li>Membolehkan mendahulukan pembayaran zakat fitrah di awal.</li>
</ol>
<p><strong>Keterangan :</strong>Bagi yang tidak berpuasa Ramadhan karena udzur tertentu yang dibolehkan oleh syaria&#8217;t dan mempunyai kewajiban membayar fidyah, maka pembayaran fidyah sesuai dengan lamanya seseorang tidak berpuasa.</li>
<li><strong>Zakat Maal</strong>
<ol>
<li><strong>Pengertian Maal (harta)</strong><br />
Menurut terminologi bahasa (lughat), harta adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya.</p>
<p>Sedangkan menurut terminologi syari&#8217;ah (istilah syara&#8217;), harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut ghalibnya (lazim). Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li>Dapat dimiliki, dikuasai, dihimpun, disimpan</li>
<li>Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya. Misalnya rumah, mobil, ternak, hasil pertanian, uang, emas, perak, dll.</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Syarat-syarat Kekayaan yang Wajib di Zakati</strong>
<ol type="a">
<li><strong>Milik Penuh</strong><br />
Artinya harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaanya secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat Islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.</li>
<li><strong>Berkembang</strong><br />
Artinya harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.</li>
<li><strong>Cukup Nishab</strong><br />
Artinya harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara&#8217;. sedangkan harta yang tidak sampai nishabnya terbebas dari Zakat dan dianjurkan mengeluarkan Infaq serta Shadaqah</li>
<li><strong>Lebih Dari Kebutuhan Pokok</strong><br />
Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum, misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dsb.</li>
<li><strong>Bebas Dari hutang</strong><br />
Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.</li>
<li><strong>Berlalu Satu Tahun (Al-Haul)</strong><br />
Maksudnya adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu (mencapai) satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Harta (maal) yang Wajib di Zakati</strong>
<ol type="a">
<li><strong>Binatang Ternak</strong><br />
Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan kecil (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung).</li>
<li><strong>Emas Dan Perak</strong><br />
Emas dan perak merupakan logam mulia yang selain merupakan tambang elok, juga sering dijadikan perhiasan. Emas dan perak juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang (potensial) berkembang. Oleh karena syara&#8217; mewajibkan zakat atas keduanya, baik berupa uang, leburan logam, bejana, souvenir, ukiran atau yang lain.</p>
<p>Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara. Oleh karena segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak. sehingga penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.</p>
<p>Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah, villa, kendaraan, tanah, dll. Yang melebihi keperluan menurut syara&#8217; atau dibeli/dibangun dengan tujuan menyimpan uang dan sewaktu-waktu dapat di uangkan. Pada emas dan perak atau lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka tidak diwajibkan zakat atas barang-barang tersebut.</li>
<li><strong>Harta Perniagaan</strong><br />
Harta perniagaan adalah semua yang diperuntukkan untuk diperjual-belikan dalam berbagai jenisnya, baik berupa barang seperti alat-alat, pakaian, makanan, perhiasan, dll. Perniagaan tersebut di usahakan secara perorangan atau perserikatan seperti : CV, PT, Koperasi, dsb.</li>
<li><strong>Hasil Pertanian</strong><br />
Hasil pertanian adalah hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti biji-bijian, umbi-umbian, sayur-mayur, buah-buahan, tanaman hias, rumput-rumputan, dedaunan, dll.</li>
<li><strong>Ma&#8217;din dan Kekayaan Laut</strong><br />
Ma&#8217;din (hasil tambang) adalah benda-benda yang terdapat di dalam perut bumi dan memiliki nilai ekonomis seperti emas, perak, timah, tembaga, marmer, giok, minyak bumi, batu-bara, dll. Kekayaan laut adalah segala sesuatu yang dieksploitasi dari laut seperti mutiara, ambar, marjan, dll.</li>
<li><strong>Rikaz</strong><br />
Rikaz adalah harta terpendam dari zaman dahulu atau biasa disebut dengan harta karun. Termasuk didalamnya harta yang ditemukan dan tidak ada yang mengaku sebagai pemiliknya.</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Zakat Profesi/Pendapatan</strong><br />
Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi dimaksud mencakup profesi pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, artis, wiraswasta, dll.</p>
<p><strong>Dasar Hukum Syari&#8217;at</strong><br />
Firman Allah SWT:<br />
&#8220;dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bahagian&#8221;. (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 19)</p>
<p>Firman Allah SWT:<br />
&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu&#8221;. (QS Al Baqarah: 267)</p>
<p>Hadist Nabi SAW:<br />
&#8220;Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu&#8221;.(HR. AL Bazar dan Baehaqi)</p>
<p>Hasilan profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, wiraswasta, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa generasi terdahulu, oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan &#8220;zakat&#8221;. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada dasarnya/hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantara mereka (sesuai dengan ketentuan syara&#8217;).</p>
<p>Dengan demikian apabila seseorang dengan penghasilan profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup (dan keluarganya), maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.</p>
<p>Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.</p>
<p><strong>Contoh perhitungan:</strong></p>
<ul type="square">
<li>Iwan Darsawan adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di kota Bekasi, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Penghasilan bersih perbulan Rp. 1.500.000,-.</li>
<li>Bila kebutuhan pokok keluarga tersebut kurang lebih Rp. 625.000 per bulan maka kelebihan dari penghasilannya = (1.500.000 &#8211; 625.000) = Rp. 975.000 perbulan.</li>
<li>Apabila saldo rata-rata perbulan 975.000 maka jumlah kekayaan yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu tahun adalah Rp. 11.700.000 (lebih dari nishab).</li>
<li>Dengan demikian Akbar berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5% dari saldo.</li>
<li>Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2.5% dari saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.</li>
</ul>
<p><strong>Perhitungan Zakat Pendapatan/Profesi</strong><br />
Nisab zakat pendapatan / profesi setara dengan nisab zakat tanaman dan buah-buahan sebesar 5 wasaq atau 652,8 kg gabah setara dengan 520 kg beras, kadar zakatnya sebesar 2,5 %. Waktu untuk mengeluarkan zakat profesi pada setiap kali menerima diqiyaskan dengan waktu pengeluaran zakat tanaman yaitu setiap kali panen. &#8220;Dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya ( dengan dikeluar kan zakat nya ). ( QS : Al-An&#8217;am : 141 ).</p>
<p><strong>Contoh perhitungan:</strong></p>
<ul type="square">
<li>Nisab sebesar 520 kg beras, asumsi harga beras 2000 jadi nilai nisab sebesar 520 x 2000 = 1.400.000</li>
<li>Jumlah pendapatan perbulan Rp 2.000.000,-</li>
<li>Zakat atas pendapatan ( karena telah mencapai nisab ) 2,5 % x 2.000.000,- = 50.000,-</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Zakat Uang Simpanan</strong><br />
Uang simpanan ( baik tabungan, deposito, dll ) dikenakan zakat dari jumlah terendah bila telah mencapai haul. Besarnya nisab senilai dengan 85 gr emas ( asumsi 1 gr emas Rp 75.000, nisab sebesar Rp 6.375.000 ). Kadarnya zakatnya sebesar 2,5 %.</p>
<ol>
<li><strong>Uang Tabungan</strong><br />
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td>Tanggal</td>
<td>Masuk</td>
<td>Keluar</td>
<td>Saldo</td>
</tr>
<tr>
<td>01/03/99</td>
<td>20.000.000</td>
<td></td>
<td>20.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td>25/03/99</td>
<td></td>
<td>2.000.000</td>
<td>18.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td>20/05/99</td>
<td></td>
<td>5.000.000</td>
<td>13.000.000</td>
</tr>
<tr>
<td>01/06/99</td>
<td>200.000*</td>
<td></td>
<td>13.200.000</td>
</tr>
<tr>
<td>12/09/99</td>
<td></td>
<td>1.000.000</td>
<td>12.200.000</td>
</tr>
<tr>
<td>11/10/99</td>
<td>2.000.000</td>
<td></td>
<td>14.200.000</td>
</tr>
<tr>
<td>31/02/00</td>
<td>1.000.000</td>
<td></td>
<td>15.200.000</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>* Bagi hasilJumlah saldo terakhir dalam tabel di atas adalah 15.200.000 telah melebihi nisab (asumsi 1 gr emas Rp 75.000, nisab sebesar Rp 6.375.000) dan genap satu tahun. Tahun haul menurut contoh di atas 01/03/99 &#8211; 31/02/00.. uang bagi hasil ini dikeluarkan terlebih dahulu sebelum perhitungan zakat.</p>
<p><strong>Perhitungan :</strong></p>
<ul type="square">
<li>Tahun haul : 01/03/99 &#8211; 31/02/00</li>
<li>Nisab : Rp 6.375.000,-</li>
<li>Saldo terakhir : Rp 15.200.000,- &#8211; Rp 200.000,- = Rp 15.000.000,-</li>
<li>Besarnya zakat : 2,5 % x Rp 15.000.000,- = Rp 375.000,-</li>
</ul>
<p>Bila seseorang mempunyai beberapa tabungan maka semua buku dihitung setelah dilihat haul dan saldo terendah dari masing-masing buku.</p>
<p><strong>Perhitungan</strong>:</p>
<ul type="square">
<li>Haul : 01/03/99 &#8211; 31/02/00</li>
<li>Saldo terakhir:<br />
- Buku 1: 5.000.000- Buku 2: 3.000.000- Buku 3: 2.000.000</li>
<li>Jumlah total : Rp 10.000.000</li>
<li>Zakat : 2,5 % x Rp 10.000.000 = Rp 250.000,-</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Simpanan Deposito</strong><br />
Seseorang mempunyai deposito di awal penyetoran tanggal 01/04/99 sebesar Rp 10.000.000 dengan jumlah bagi hasil 300.000 setahun. Haul wajib zakat adalah tanggal 31/03/00, nisab sebesar 6.375.000. Maka setelah masa haul tiba zakat yang harus dikeluarkan sebesar :2.5 % x Rp 10.000.000 = Rp 250.000</p>
<p>Bila seseorang mempunyai beberapa simpanan deposito maka seluruh jumlah simpanan deposito dijumlahkan. Bila mencapai nisab dengan masa satu tahun kadar zakatnya sebesar 2,5 % dengan perhitungan seperti di atas.</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Zakat Emas/Perak</strong><br />
Seorang muslim yang mempunyai emas dan perak wajib mengeluarkan zakat bila sesuai dengan nisab dan haul. Adapun nisab emas sebesar 85 gr dan nisab perak 595 gr.</p>
<ol>
<li>Emas yang tidak dipakai<br />
Emas yang tidak dipakai adalah perhiasan emas yang tidak digunakan atau sekali pun dipakai hanya sekali setahun. Dengan demikian bila seseorang menyimpan me-nyamai atau melebihi 85 gr maka ia wajib mengeluarkan zakat emas tersebut. Ada pun kadar zakatnya besarnya 2,5 % di hitung dari nilai uang emas tersebut. Misalnya : seseorang mempunyai 90 gr emas. Harga 1 gr emas 70.000. Maka besarnya zakat yang dikeluarkan sebesar : 90 x 70.000 x 2,5 % = 157.500</li>
<li>Emas yang dipakai<br />
Emas yang dipakai adalah dalam kondisi wajar dan tidak berlebihan. Jadi bila seorang wanita mempunyai emas 120 gr, dipakai dalam aktivitas sehari-hari sebanyak 15 gr. Maka zakat emas yang wajib dikeluarkan oleh wanita tersebut adalah 120 gr &#8211; 15 gr = 105 gr. Bila harga emas 70.000 maka zakat yang harus dikeluarkan sebesar : 105 x 70.000 x 2,5 % = 183.750</li>
</ol>
<p><strong>Keterangan</strong> :<br />
Perhitungan zakat perak mengikuti cara per hitungan di atas.</li>
<li><strong>Zakat Investasi</strong><br />
Zakat investasi adalah zakat yang dikenakan terhadap harta yang diperoleh dari hasil investasi. Diantara bentuk usaha yang masuk investasi adalah bangunan atau kantor yang disewakan, saham, rental mobil, rumah kontrakan, investasi pada ternak atau tambak, dll.</p>
<p>Dilihat dari karakteristik investasi, biasanya modal tidak bergerak dan tidak terpengaruh terhadap hasil produksi maka zakat investasi lebih dekat ke zakat pertanian. Pendapat ini diikuti oleh ulama modern seperti Yusuf Qordhowi, Muhammad Abu Zahrah, Abdul Wahab Khalaf, Abdurahman Hasan, dll.</p>
<p>Dengan demikian zakat investasi dikeluarkan pada saat menghasilkan sedangkan modal tidak dikenai zakat. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 % atau 10 %. 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 untuk penghasilan bersih.</li>
<li><strong>Zakat Hadiah dan Sejenisnya</strong>
<ol>
<li>Jika hadiah tersebut terkait dengan gaji maka ketentuannya sama dengan zakat profesi/pendapatan. Dikeluarkan pada saat menerima dengan kadar zakat 2,5 %.</li>
<li>Jika komisi, terdiri dari 2 bentuk : pertama, jika komisi dari hasil prosentasi keuntungan perusahaan kepada pegawai, maka zakat yang dikeluarkan sebesar 10 % (sama dengan zakat tanaman), kedua, jika komisi dari hasil profesi seperti makelar, dll maka digolongkan dengan zakat profesi. Aturan pembayaran zakat mengikuti zakat profesi.</li>
<li>Jika berupa hibah, terdiri dari dua kriteria, pertama, jika sumber hibah tidak di duga-duga sebelumnya, maka zakat yang dikeluarkan sebesar 20 %, kedua, jika sumber hibah sudah diduga dan diharap, hibah tersebut digabung kan dengan kekayaan yang ada dan zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 %.</li>
</ol>
</li>
<li><strong>Zakat Perniagaan-Zakat Perdagangan</strong><br />
&#8220;Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang.&#8221; ( HR. Abu Dawud )</p>
<p>Ketentuan zakat perdagangan:</p>
<ol>
<li>Berjalan 1 tahun ( haul ), Pendapat Abu Hanifah lebih kuat dan realistis yaitu dengan menggabungkan semua harta perdagangan pada awal dan akhir dalam satu tahun kemudian dikeluarkan zakatnya.</li>
<li>Nisab zakat perdagangan sama dengan nisab emas yaitu senilai 85 gr emas</li>
<li>Kadarnya zakat sebesar 2,5 %</li>
<li>Dapat dibayar dengan uang atau barang</li>
<li>Dikenakan pada perdagangan maupun perseroan.</li>
</ol>
<p><strong>Perhitungan</strong> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> Modal diputar + Keuntungan + piutang yang dapat dicairkan) &#8211; (hutang + kerugian) x 2,5 %</p>
<p><strong>Contoh</strong> :<br />
Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, agroindustri, ataupun jasa, dikelola secara individu maupun badan usaha (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi, Dll) nishabnya adalah 20 dinar (setara dengan 85 gram emas murni). Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja dan untung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas (asumsi jika per-gram Rp 75.000,- = Rp 6.375.000,-), maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %</p>
<p>Pada badan usaha yang berbentuk syirkah (kerjasama), maka jika semua anggota syirkah beragama Islam, zakat dikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang bersyirkah. Tetapi jika anggota syirkah terdapat orang yang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah muslim saja (apabila jumlahnya lebih dari nishab)</p>
<p><strong>Cara menghitung zakat :</strong><br />
Kekayaan yang dimiliki badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga bentuk di bawah ini :</p>
<ol>
<li>Kekayaan dalam bentuk barang</li>
<li>Uang tunai</li>
<li>Piutang</li>
</ol>
<p>Maka yang dimaksud dengan harta perniagaan yang wajib dizakati adalah yang harus dibayar (jatuh tempo) dan pajak.<strong>Contoh</strong> :<br />
Sebuah perusahaan meubel pada tutup buku per Januari tahun 1995 dengan keadaan sbb :</p>
<ul type="square">
<li>Sofa atau Mebel belum terjual 5 set Rp 10.000.000</li>
<li>Uang tunai Rp 15.000.000</li>
<li>Piutang	Rp 2.000.000</li>
<li>Jumlah	Rp 27.000.000</li>
<li>Utang &amp; Pajak Rp 7.000.000</li>
<li>Saldo Rp 20.000.000</li>
<li>Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,- = Rp 500.000,-</li>
</ul>
<p>Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan bangunan atau lemari, etalase pada toko, dll, tidak termasuk harta yang wajib dizakati sebab termasuk kedalam kategori barang tetap (tidak berkembang)Usaha yang bergerak dibidang jasa, seperti perhotelan, penyewaan apartemen, taksi, renal mobil, bus/truk, kapal laut, pesawat udara, dll, kemudian dikeluarkan zakatnya dapat dipilih diantara 2 (dua) cara:</p>
<ul type="square">
<li>Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), seluruh harta kekayaan perusahaan dihitung, termasuk barang (harta) penghasil jasa, seperti taksi, kapal, hotel, dll, kemudian keluarkan zakatnya 2,5 %.</li>
<li>Pada Perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan dengan perhitungan zakat hasil pertanian, dimana perhitungan zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya, tidak dihitung harga tanahnya.</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Zakat Perusahaan</strong><br />
Zakat perusahaan hampir sama dengan zakat perdagangan dan investasi. Bedanya dalam zakat perusahaan bersifat kolektif. Dengan kriteria sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Jika perusahaan bergerak dalam bidang usaha perdagangan maka perusahaan tersebut mengeluarkan harta sesuai dengan aturan zakat perdagangan. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 %</li>
<li>Jika perusahaan tersebut bergerak dalam bidang produksi maka zakat yang dikeluarkan sesuai dengan aturan zakat investasi atau pertanian. Dengan demikian zakat perusahaan dikeluarkan pada saat menghasilkan sedangkan modal tidak dikenai zakat. Kadar zakat yang dikeluarkan sebesar 5 % atau 10 %. 5 % untuk penghasilan kotor dan 10 % untuk pengahasilan bersih.</li>
</ol>
<p><strong>Catatan</strong> :Bila dalam perusahaan tersebut ada penyer taan modal dari pegawai non muslim maka penghitungan zakat setelah dikurangi ke- pemilikan modal atau keuntungan dari pegawai non muslim</li>
</ol>
<p>Sumber : pkpu.or.id</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=158&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/jeniss-jenis-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum dan Cara Pelaksanaan Puasa Syawal</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/hukum-dan-cara-pelaksanaan-puasa-syawal/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/hukum-dan-cara-pelaksanaan-puasa-syawal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 04:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[cara]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[pelaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[syawal]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Rekan2, alhamdulillah…ALLOH SWT masih memberikan umur pada qt, sehingga qt masih bisa hidup di bulan Syawal ini. Bulan Ramadhan, bulan yg penuh rahmat, telah berlalu…namun itu bukan berarti qt tidak bisa beramal dan beribadah lagi. Nilainya mungkin tidak sebesar bulan Ramadhan, namun sesungguhnya fase setelah Ramadhan jauh lebih besar tantangan dan hambatan. Insya ALLOH jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=156&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rekan2, alhamdulillah…ALLOH SWT masih memberikan umur pada qt, sehingga qt masih bisa hidup di bulan Syawal ini. Bulan Ramadhan, bulan yg penuh rahmat, telah berlalu…namun itu bukan berarti qt tidak bisa beramal dan beribadah lagi. Nilainya mungkin tidak sebesar bulan Ramadhan, namun sesungguhnya fase setelah Ramadhan jauh lebih besar tantangan dan hambatan. Insya ALLOH jika qt berhasil, maka pada saat bertemu lagi dg Ramadhan, kualitas ibadah qt akan lebih baik karena sudah terbiasa mengamalkannya selama 11 bulan.</p>
<p>Oke, selesai pembukaannya <img class="wp-smiley" src="http://tausyiah275.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /> Kini aku akan tampilkan artikel ttg PUASA SYAWAL, agar rangkaian ibadah qt tidak terputus… <img class="wp-smiley" src="http://tausyiah275.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /></p>
<p>Dalil puasa Syawal adalah:</p>
<p>Dari Abu Ayyub rodhiyallahu anhu:<br />
<em>“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.”</em><br />
[Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]</p>
<p>Riwayat lain:<br />
<em>“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun.”</em></p>
<p><strong>Hukumnya adalah sunnah:</strong><br />
“Ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syaafi’i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya. Tidaklah benar untuk menolak hadits ini dengan alasan-alasan yang dikemukakan beberapa ulama dalam memakruhkan puasa ini, seperti; khawatir orang yang tidak tahu menganggap ini bagian dari Ramadhan, atau khawatir manusia akan menganggap ini wajib, atau karena dia tidak mendengar bahwa ulama salaf biasa berpuasa dalam Syawal, karena semua ini adalah perkiraan-perkiraan, yang tidak bisa digunakan untuk menolak Sunnah yang shahih. Jika sesuatu telah diketahui, maka menjadi bukti bagi yang tidak mengetahui.”<br />
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/389]</p>
<p>Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:</p>
<p><strong>1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.</strong><br />
“Hari-hari ini (berpuasa Syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. … dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan sunnah.”<br />
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/391]</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:<br />
“Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.”<br />
[Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab]</p>
<p>Bagaimanapun juga <strong>bersegera adalah lebih baik:</strong><br />
<em>Berkata Musa: ‘Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho kepadaku. </em>[ThooHaa: 84]</p>
<p><strong>2. Tidak boleh dilakukan jika masih tertinggal dalam Ramadhan</strong><br />
“Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.”<br />
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/392]</p>
<p>So, mumpung masih pada ‘anget’ baru puasa Ramadhan, kenapa tidak diteruskan dg puasa Syawal?? <img class="wp-smiley" src="http://tausyiah275.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=156&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/hukum-dan-cara-pelaksanaan-puasa-syawal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tausyiah275.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif" medium="image">
			<media:title type="html">;)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tausyiah275.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tausyiah275.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_wink.gif" medium="image">
			<media:title type="html">;)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Sholat Berjamaah</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/hukum-sholat-berjamaah/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/hukum-sholat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2008 03:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[berjama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[fardhu]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.
Di kalangan ulama berkembang banyak pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang mengatakan fardhu `ain, sehingga orang yang tidak ikut shalat berjamaah berdosa. Ada yang mengatakan fardhu kifayah sehingga bila sudah ada shalat jamaah, gugurlah kewajiban orang lain untuk harus shalat berjamaah. Ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=152&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh:  <em></em><em>Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.</em></p>
<p>Di kalangan ulama berkembang banyak pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang mengatakan fardhu `ain, sehingga orang yang tidak ikut shalat berjamaah berdosa. Ada yang mengatakan fardhu kifayah sehingga bila sudah ada shalat jamaah, gugurlah kewajiban orang lain untuk harus shalat berjamaah. Ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah merupakan syarat syahnya sholat Fardhu. Dan ada juga yang mengatakan hukumnya sunnah muakkadah.</p>
<p>Berikut kami uraikan masing-masing pendapat yang ada beserta dalil masing-masing.</p>
<p><strong>1. PendapatPertama: Fardhu Kifayah</strong></p>
<p>Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi`i dan Abu Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al-Ifshah jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.</p>
<p>Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam.</p>
<p>Di dalam kitab Raudhatut-Thalibin karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa:</p>
<p>Shalat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk shalat Jumat. Sedangkan untuk shalat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya adalah fardhu kifayah, tapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain.</p>
<p>Adapun dalil mereka ketika berpendapat seperti di atas adalah:</p>
<p><em>Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.” (HR Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan)</em></p>
<p><em>Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW, `Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi imam.(HR Muslim 292 &#8211; 674).</em></p>
<p><em>Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR Muslim 650, 249)</em></p>
<p>Al-Khatthabi dalam kitab Ma`alimus-Sunan jilid 1 halaman 160 berkata bahwa kebanyakan ulama As-Syafi`i mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu `ain dengan berdasarkan hadits ini.</p>
<p><strong>2. Pendapat Kedua: Fardhu `Ain</strong></p>
<p>Yang berpendapat demikian adalah Atho` bin Abi Rabah, Al-Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al-Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atho` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia mendatanginya untuk shalat. (lihat Mukhtashar Al-Fatawa Al-MAshriyah halaman 50).</p>
<p>Dalilnya adalah hadits berikut:</p>
<p><em>Dari Aisyah ra berkata, `Siapa yang mendengar azan tapi tidak menjawabnya (dengan shalat), maka dia tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan tidak menginginkannya. (Al-Muqni` 1/193)</em></p>
<p>Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun shalatnya tetap syah.</p>
<p><em>Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).</em></p>
<p><strong>3. Pendapat Ketiga: Sunnah Muakkadah</strong></p>
<p>Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah sebagaimana disebutkan oleh imam As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Beliau berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya shalat, tentu tidak bisa diterima.</p>
<p>Al-Karkhi dari ulama Al-Hanafiyah berkata bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah muakkadah itu sama dengan wajib. (silahkan periksan kitab Bada`ius-Shanai` karya Al-Kisani jilid 1 halaman 76).</p>
<p>Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan bahwa shalat fardhu berjamaah selain shalat Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Lihat Jawahirul Iklil jilid 1 halama 76.</p>
<p>Ibnul Juzzi berkata bahwa shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah. (lihat Qawanin Al-Ahkam As-Syar`iyah halaman 83). Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu As-Shaghir jilid 1 halaman 244 berkata bahwa shalat fardhu dengan berjamaah dengan imam dan selain Jumat, hukumnya sunnah muakkadah.</p>
<p>Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil-dalil berikut ini:</p>
<p>Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR Muslim 650, 249)</p>
<p>Ash-Shan`ani dalam kitabnya Subulus-Salam jilid 2 halaman 40 menyebutkan setelah menyebutkan hadits di atas bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu berjamaah itu hukumnya tidak wajib.</p>
<p>Selain itu mereka juga menggunakan hadits berikut ini:</p>
<p><em>Dari Abi Musa ra berkata bahwa Rasulullah SAw bersabda, `Sesungguhnya orang yang mendapatkan ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur. (lihat Fathul Bari jilid 2 halaman 278)</em></p>
<p><strong>4. Pendapat Keempat: Syarat Syahnya Shalat</strong></p>
<p>Pendapat keempat adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum syarat fardhu berjamaah adalah syarat syahnya shalat. Sehingga bagi mereka, shalat fardhu itu tidak syah kalau tidak dikerjakan dengan berjamaah.</p>
<p>Yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Ibnu Taymiyah dalam salah satu pendapatnya (lihat Majmu` Fatawa jilid 23 halaman 333). Demikian juga dengan Ibnul Qayyim, murid beliau. Juga Ibnu Aqil dan Ibnu Abi Musa serta mazhab Zhahiriyah (lihat Al-Muhalla jilid 4 halaman 265). Termasuk di antaranya adalah para ahli hadits, Abul Hasan At-Tamimi, Abu Al-Barakat dari kalangan Al-Hanabilah serta Ibnu Khuzaemah.</p>
<p>Dalil yang mereka gunakan adalah:</p>
<p><em>Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAw bersaba, `Siapa yang mendengar azan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur.(HR Ibnu Majah793, Ad-Daruquthuny 1/420, Ibnu Hibban 2064 dan Al-Hakim 1/245)</em></p>
<p><em>Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).</em></p>
<p><em>Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya, `Apakah kamu dengar azan shalat?`. `Ya`, jawabnya. `Datangilah`, kata Rasulullah SAW. (HR Muslim 1/452). </em></p>
<p><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p>Setiap orang bebas untuk memilih pendapat manakah yang akan dipilihnya. Dan bila kami harus memilih, kami cenderung untuk memilih pendapat menyebutkan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah muakkadah, karena jauh lebih mudah bagi kebanyakan umat Islam serta didukung juga dengan dalil yang kuat. Meskipun demikian, kami tetap menganjurkan umat Islam untuk selalu memelihara shalat berjamaah, karena keutamaannya yang disepakati semua ulama.</p>
<p>(HR Ibnu Majah 1/202, An-Nasai 3/112, Ibnu Khuzaemah 3/173, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/291 dia menshahihkan hadits ini hadits ini dari tiga jalannya).</p>
<p><em>Wallahu a’lam bishshawab.</em></p>
<p>Sumber : dakwahcyber.wordpress.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=152&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/10/09/hukum-sholat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Puasa Bukti Cinta Alloh buat Hamba-Nya</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/09/06/puasa-bukti-cinta-alloh-buat-hamba-nya/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/09/06/puasa-bukti-cinta-alloh-buat-hamba-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 14:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Alloh]]></category>
		<category><![CDATA[bua mulu]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[kasturi]]></category>
		<category><![CDATA[umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.&#8221; (HR Bukhari).
Kita ini ada di dunia karena diciptakan Allah. Bisa hidup karena diberi makan, minum, dan udara oleh Allah. Sungguh celaka jika terbetik niat lain sewaktu berpuasa, selain karena memenuhi kehendak dan perintah Allah.Sungguh, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=147&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8221;Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.&#8221; (HR Bukhari).</p>
<p>Kita ini ada di dunia karena diciptakan Allah. Bisa hidup karena diberi makan, minum, dan udara oleh Allah. Sungguh celaka jika terbetik niat lain sewaktu berpuasa, selain karena memenuhi kehendak dan perintah Allah.Sungguh, berbeda dengan amal ibadah yang lain, kita merasakan getaran cinta Penguasa Alam Raya dalam perintah puasa ini. Getaran cinta dan kasih Allah itu dapat dirasakan pada hadis di atas.</p>
<p>Cobalah pahami bahasa hadis tersebut. Bukankah ini ungkapan cinta yang melimpah dari Allah kepada hamba-Nya yang berpuasa? Kita semua paham bahwa bau mulut orang yang berpuasa di manapun pasti sangat busuk. Itu wajar karena saat perut sedang kosong, asam lambung dapat memanjat sampai ke dinding mulut.</p>
<p>Saat berbicara, menguap, atau bahkan sekadar membuka mulut langsung akan tersebar aroma yang membuat orang menutup hidungnya. Namun, bagi Allah, seseorang yang berpuasa telah mengorbankan makan, minum, dan syahwatnya hanya karena Allah. Allah sungguh cinta pada pengorbanan mereka. Dan, cinta itulah yang menjadikan bau mulut mereka dihargai Allah lebih wangi dari minyak kasturi.</p>
<p>Subhanallah, betapa besarnya cinta kasih Allah terhadap orang yang berpuasa. Banyak sekali amal perbuatan kita ini yang pahalanya dijanjikan Allah kepada kita secara kalkulatif. Contoh, shalat jamaah menaikkan derajat kita di sisi Allah hingga 27 derajat. Bersedekah dilipatgandakan Allah pahalanya hingga 700 kali lipat.</p>
<p>Begitu pula shalat di Masjidil Haram yang pahalanya 100 ribu lebih utama dibandingkan shalat di masjid biasa. Semuanya dijanjikan Allah dalam hitungan-hitungan yang jelas. Tapi, untuk puasa, Allah mengungkapkan apresiasi-Nya yang tinggi. &#8221;Puasa itu untuk-Ku dan biar Aku yang menganugerahkan pahalanya.&#8221; Bukankah ini sebuah ungkapan sentimental yang diwarnai dengan kecintaan?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/geefa.wordpress.com/147/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/geefa.wordpress.com/147/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=147&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/09/06/puasa-bukti-cinta-alloh-buat-hamba-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Merusak Puasa,Qadha,Kaffarah,Fidyah</title>
		<link>http://geefa.wordpress.com/2008/09/04/yang-merusak-puasaqadhakaffarahfidyah/</link>
		<comments>http://geefa.wordpress.com/2008/09/04/yang-merusak-puasaqadhakaffarahfidyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 14:35:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>geefa</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fidyah]]></category>
		<category><![CDATA[kaffarah]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadr]]></category>
		<category><![CDATA[qadha]]></category>
		<category><![CDATA[yang merusak puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geefa.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[
15. Hal-hal yang merusakkan puasa
a. Makan dan minum secara sengaja
Allah berfirman :
Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, ( Al Baqarah : 187)
Maka dapat dipahami disini bahwa puasa itu adalah puasa dari makan dan minum, maka jika orang yang berpuasa makan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=145&subd=geefa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="storycontent">
<p>15. <strong>Hal-hal yang merusakkan puasa</strong><br />
a. <strong>Makan dan minum secara sengaja</strong><br />
Allah berfirman :<br />
<em>Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, </em>( Al Baqarah : 187)</p>
<p>Maka dapat dipahami disini bahwa puasa itu adalah puasa dari makan dan minum, maka jika orang yang berpuasa makan dan minum maka telah batal puasanya, dikhususkan disini jika dilakukan dengan sengaja, karena seorang yang berpuasa jika makan dan minum karena lupa atau salah maka tidak mengapa.</p>
<p>Rasulullah bersabda :<br />
<em>Jika seseorang lupa lalu makan dan minum maka hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.</em> (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>b. <strong>Sengaja muntah</strong><br />
Karena barangsiapa yang muntah tidak sengaja tidak mengapa. Rasulullah bersabda :<br />
<em>Barangsiapa muntah dengan tidak disengaja maka ia tidak wajib mengganti puasanya, dan barangsiapa yang sengaja untuk memuntahkan hendaknya mengganti puasanya.</em> (Hadist riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).</p>
<p>c. <strong>Haid dan Nifas</strong><br />
Jika perempuan haid atau nifas pada siang hari baik awal siang ataupun pada akhir siang (sore) maka batal puasanya dan harus mengganti dan jika ia (terus) berpuasa, maka puasanya tidak sah.</p>
<p>Rasulullah bersabda :<br />
<em>Bukankah jika perempuan haid tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka (wanita-wanita ) berkata :Benar lalu Nabi berkata : Itula dua kekurangan agama kaum wanita.</em> (Hadits riwayat Bukhari)</p>
<p>d. <strong>Suntikan gizi</strong><br />
Yaitu memasukkan sebagian zat-zat gizi makanan ke usus dengan maksud memberi gizi sebagian orng yang sakit, hal ini adalah satu macam perbuatan yang membatalkan puasa karena memasukkan kedalam rongga.</p>
<p>Dan jika suntikan tidak mencapai usus dan hanya mencapai darah maka juga membatalkan puasa, karena hal ini keadaannya seperti makanan dan minuman. Dan kebanyakan orang sakit yang tidak sadar dalam jangka lama, mereka diberi zat gizi dengan perantaraan jarum ini, seperti</p>
<p>e. <strong>Jima’ (melakukan hubungan suami istri)</strong><br />
Berkata Ibnul Qoyyim dalam kitab Zaadul Maad 2/60 : Al Qur’an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti makan dan minum, (hal ini) tidak diketahui adanya perselisihan padanya.</p>
<p>Dan dalil hal ini dari Al Qur’an :<br />
<em>Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu. </em>(Al Baqarah : 187)</p>
<p>Maka dalam ayat diatas Allah memberri izin untuk mencampuri istri-istri, maka dipahami dari sini bahwa puasa itu adalah puasa dari jima’ ,makan dan minum. Maka barangsiapa merusakkan puasanya dengan dengan jima’ maka wajib baginya mengganti puasanya dan kaffaarah (menebus tebusan). Dalil dari hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ia berkata :<br />
<em>Datang seorang lelaki lalu berkata :Wahai Rasulullah, aku telah binasa.<br />
Nabi bertanya :Apa yang membinasakanmu?Ia menjawab : Aku telah menyetubuhi istriku (disaat puasa) pada bulan Ramadhan.<br />
Nabi berkata : Apakah kamu mampu membebaskan budak (untuk kaffarahnya)? Ia pun menjawab : Tidak.<br />
Lalu Nabi bertanya lagi :Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? ia berkata: Tidak mampu.<br />
Maka Nabi bertanya lagi :Apakah kamu mampu untuk memberi makan 60 orang miskin? ia menjawab : tidak.<br />
Rasulullah berkata : Duduklah! maka duduklah ia. Lalu didatangkan kepada Nabi tempat didalamnya ada kurma.<br />
Nabi berkata : Bersedakahlah dengannya! ia pun menjawab : Tidak ada diantara kampung kami yang lebih fakir dari kami.<br />
Abu Hurairah berkata :Maka Nabi pun tertawa hingga nampak gigi beliau. Nabi berkata :Ambillah ini dan berilah makan keluargamu!.</em> (Hadits riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi dll)</p>
<p>16. <strong>Mengqadha (mengganti puasa)</strong><br />
a. <strong>Diperbolehkannya mengakhirkan dalam mengganti puasa Ramadhan</strong><br />
Ketahuilah (Semoga Allah memberi pemahaman ilmu agama pada kami dan kamu) bahwa mengqadha (mengganti) puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan dengan segera, sesungguhnya hal ini luas dilaksanakannya, sebagaimana hadits riwayat Aisyah :<br />
<em>Adalah aku punya hutang puasa Ramadhan, tidaklah aku mampu menggantinya kecuali pada bulan sya’ban.</em> (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>b. <strong>Tidak wajib dikerjakan secara berturut-turut</strong><br />
Berdasarkan firman Allah :<br />
<em>Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. </em>(Al Baqarah : 185)<br />
Berkata Ibnu Abbas :<br />
<em>Tidak mengapa untuk disela-selahi dalam mengganti puasa Ramadhan. </em>(Hadits riwayat Bukhari, dan Bukhari tidak menyebutkan sanadnya, dan dijelaskan sanadnya oleh Abdurrazaq, Daraqutni,dan Ibnu Abi Saibah dengan sanad shahih)</p>
<p>c. <strong>Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai nadzar berpuasa</strong><br />
Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai puasa nadzar maka walinya mengganti puasanya, berdasarkan sabda Rasulullah :<br />
<em>Barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai hutang puasa maka walinya menggantikannya.</em> (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)<br />
Dan dari Ibnu Abbas ia berkata, datang <em>seorang lelaki kepada Nabi lalu bertanya : Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku meninggal dan ia mempunyai hutang puasa sebulan, apakah aku harus menggantikannya berpuasa?<br />
Nabi menjawab :ya, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.</em> (Hadits Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits-hadits diatas adalah hadits-hadits umum yang menjelaskan disyariatkannya berpuasa wali mengganti puasanya mayit segala macam puasa. Dan sebagian pengikut madzhab Syafii berpendapat seperti ini dan juga Ibnu Hazm 7/2,8). Hanya saja hadits-hadits ini adalah hadits-hadits yang memberikan penjelasan secara umum, maka janganlah seorang wali mengganti puasa mayit kecuali puasa nadzar, dan pendapat inilah yan dipegang Imam Ahmad sebagaimana tersebut dalam kitab Masailul Imam Ahmad riwayat Abu Daud hal 96 ia berkata : saya mendengar Ahmad bin Hambal berkata :Tidaklah mayit diganti puasanya kecuali puasa nadzar, berkata Abu Daud : aku bertanya kepada Ahmad : Adapun bulan Ramadhan? beliau berkata:memberi makanan (sebagai ganti hutang puasanya).</p>
<p>d. <strong>Memberi makan</strong><br />
Dan barangsiapa yang meninggal dan ia mempunyai hutang puasa nadzar dan digantikan oleh beberapa orang lelaki untuk mengganti puasanya mayit maka diperbolehkan,<br />
berkata Al Hasan Al Basri :Jika mengganti puasa mayit itu 30 orang lelaki dan setiap orang berpuasa satu hari maka diperbolehkan. (Bukhari)</p>
<p>Adapun memberi makan jika wali mayit mengumpulkan orang-orang miskin sejumlah hari hutang puasa mayit dan mengenyangkan mereka maka diperbolehkan. Demikianlah yang dilakukan Anas bin Malik.</p>
<p>17. <strong>Kaffarah (tebusan karena melakukan pelanggaran)</strong><br />
a. <strong>Kaffarah karena jima, secara berurutan</strong><br />
Kaffarah seorang yang melanggar puasa karena jima (pada siang hari bulan Ramadhan) adalah : membebaskan budak, jika tidak terdapat budak maka puasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.<br />
b. <strong>Orang yang lemah gugur kaffarahnya</strong><br />
c. <strong>Wanita tidak wajib melaksanakan kaffarah</strong><br />
Kaffarah tidak wajib bagi perempuan, karena Nabi diberitahu tentang perbuatan yang terjadi antara seorang lelaki dan perempuan, dan beliau tidak mewajibkan kecuali satu kaffarah saja (yaitu kepada laki-laki).<br />
Dalil (a,b,c) terdapat dalam pembahasan No 15 bagian E, hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah</p>
<p>18. <strong>Fidyah</strong><br />
Wanita yang hamil dan menyusui jika khawatir akan diri atau anak mereka, tidak (perlu) berpuasa dan (hendaknya) memberi makan seorang miskin setiap hari,<br />
dan dalil dari hal ini adalah firman Allah :<br />
<em>Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.</em> (Al Baqarah : 184)</p>
<p>Dan ayat diatas dikhususkan kepada Orang yang sudah lanjut usia, perempuan yang lemah, orang yang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, wanita hamil,dan wanita menyusui yang khawatir atas (keselamatan) diri mereka dan jiwa anak mereka.</p>
<p>Dari malik, dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar ditanya tentang seorang perempuan yang hamil jika takut (akan keselamatan) anaknya, maka Ibnu Umar berkata :<br />
Ia tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin tiap hari dengan satu mud biji gandum. (Dikeluarkan oleh Baihaqi dengan sanad shahih)<br />
Dan Daraqutni (1/207) meriwaytkan dari Ibnu Umar dan ia menshahihkannya, bahwa Ibnu Umar berkata :<br />
Wanita hamil dan Wanita yang menyusui tidak berpuasa dan tidak mengganti puasa.</p>
<p>Dan diriwayatkan Daraqutni (juga) dari jalan yang lain :<br />
Bahwa istri Ibnu Umar bertanya kepada Ibnu Umar dan ia dalam keadaan hamil, maka Ibnu Umar berkata : “Makanlah (tidak usah puasa) dan berimakanlah fakir miskin setiap hari dan janganlah mengganti puasanya.</p>
<p>19. <strong>Lailatul Qadr</strong><br />
a. <strong>Keutamaanya </strong><br />
Allah berfirman :<br />
<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. </em>(Al Qadr :1-5)</p>
<p>b. <strong>Waktunya</strong><br />
Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, Ia berkata :<br />
Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata :Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.</p>
<p>c. <strong>Bagaimana seorang muslim menyelidiki lailatul qadr</strong><br />
Rasulullah bersabda :<br />
<em>Barangsiapa berdiri melakukan shalat malam pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah niscaya diampuni dosanya yang telah lalu. </em>(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dan disunnahkan berdoa pada malam lailatul qadr dan memperbanyaknya, disebutkan hadits dari Aisyah ia berkata :<em> Aku berkata : Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatku jika aku mengetahui suatu malam itu malam lailatul qadr, apa yang aku katakana ?<br />
Nabi bersabda :Katakanlah : Ya Allah sesungguhnya engkau adalah Pemaaf dan menyukai permohonan maaf maka maafkanlah aku ya Allah.</em> (Hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)<br />
Dari Aisyah ia berkata : “<em>Adalah Rasulullah jika memasuki 10 hari terakhir menjauhi istri-istri beliau untuk beribadah, dan menghidupkan malamnya, serta membangunkan keluarganya. </em>(Hadits riwayat Bukhari).</p>
<p>d. <strong>Tanda-tandanya</strong><br />
Dari Ibnu Abbas ia berkata, Nabi r bersabda :<br />
<em>Malam lailatul qadr adalah malam yang halus, berseri-seri, tidak panas, dan tidak pula dingin, pada pagi harinya matahari besinar lemah kemerah-merahan. </em>(Hadits riwayat Thayalosi dan Ibnu Khuzaimah)</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/geefa.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/geefa.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geefa.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geefa.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geefa.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geefa.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geefa.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geefa.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geefa.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geefa.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geefa.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geefa.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geefa.wordpress.com&blog=3707305&post=145&subd=geefa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geefa.wordpress.com/2008/09/04/yang-merusak-puasaqadhakaffarahfidyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eb68f2946d202ecbf9d357f993206c5b?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">geefa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>